Rabu, 09 Mei 2012

SEJARAH KAHYANGAN DI BUMI PAYANGAN KEKUATAN TUHAN YANG UTAMA




Payangan adalah salah satu Kecamatan di kabupaten Gianyar yang berada diketinggian 600 meter diatas permukaan laut yang berbatasan langsung dengan wilayah bukit Kintamani Bangli sehingga daerah ini terkenal sangat subur terutama dalam pertanian maupun perkebunan sayur mayur, kopi dan coklat. Secara letak geografis Kecamatan Payangan terletak tepat di tengah pulau bali dan nama daerah Payangan pada zaman dahulu kala adalah Parahyangan yang berarti Kahyangan atau Kedewatan tempat Para Hyang Dewata berstana atau melinggih karena jauh sebelum kedatangan Rsi Markandeya abad ke 8 Masehi. Saat Rsi Markandeya datang ke daerah tersebut dan memberi nama Parahyangan dengan Desanya Melinggih yang artinya linggih atau lingga pijakan suci para dewata dan nama dari Parahyangan sendiri saat ini secara singkat pengucapannya menjadi Payangan.
Rsi Markandeya penganut siwa beliau juga seorang mahayogi yang berasal dari India, beliau yang pertama kali datang bersama pengikutnya yaitu wong aga ke bali setelah kegagalan pertamanya di Hutan alas angker taro payangan yang mana banyak dari pengikutnya mati dikarenakan terkena wabah penyakit,diterkam binatang buas dll. Karena pulau bali pada saat itu alamnya masih angker, beliau kembali ke pertapaannya di Gunung Raung, jawa timur dan memohon petunjuk Sang Pencipta dan Pelebur yaitu Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberikan perlindungan dan keselamatan, saat itulah Sang Maharsi diperintahkan menanam panca datu yang terdiri dari simbol lima elemen dasar alam semesta yang terdiri dari unsur logam mulia emas, perak, tembaga, besi dan batu mirah di lereng Gunung Tohlangkir atau Gunung Agung sebagai simbol kekuatan dunia dan alam semesta.

Setibanya beliau beserta pengikutnya kembali ke pulau bali tepatnya di lereng Gunung Tohlangkir sebagai gunung tertinggi di Nusa Dawa sebutan pulau bali saat itu dan beliau memulai ritual menanam panca datu yang tujuan utamanya adalah memohon kepada Hyang Siwa Mahadewa sebagai penguasa Gunung Tohlangkir agar yadnya ini berjalan dengan baik dan sempurna. Setelah menanam panca datu di lereng Gunung Tohlangkir sebagai syarat dasar kekuatan jagat bali, dimana daerah saat menanam panca datu itu diberi nama Besukih menjadi Besakih yang artinya selalu selamat dan rahayu. Setelah selesai melakukan pengurip jagat beliau mendapatkan sabda wahyu dari Hyang Siwa Mahadewa agar membangun salah satu Parahyangan beliau yang terletak di murwaning jagat bali karena di sanalah keberadaan beliau sebagai murti (sakti) dari para Hyang Bhatara-Bhatari jagat bali sehingga harus distanakan dan dilinggihkan, saat itulah beliau mendapatkan titah dan menjalankan apa yang disabdakan oleh Hyang Siwa Mahadewa dengan keteguhan jiwa dan keiklasan beliau bersama pengikutnya berjalan menuju daerah tujuan yaitu pusat murwaning jagat bali.
Pada saat diperjalanan beliau tiba di suatu daerah yang sangat indah tanahnya subur dan rindangnya hutan alas payangan tetapi juga merasakan getaran-getaran sepiritual yang dahsyat, lalu dengan kesaktian sidhi jnana beliau meyakini bahwa tempat dimana beliau berpijak inilah sebagai pusat bumi atau murwaning jagat bali sehingga sangat tepat sabda Hyang Siwa Mahadewa menginginkan agar dibuatkannya sebuah Parahyangan Dewata di daerah ini. Saat itulah beliau membangun kahyangan pertama kalinya di Bumi Parahyangan Dewata yaitu Kahyangan Murwa Bumi yang berarti Murwa ning Bumi (Pusat Bumi) sebagai awal mula kehidupan yang ada. Keberadaan seorang pendeta suci sekaligus Yogi Pertapa Rsi Markandeya sebagai pemimpin rohaniawan dari wong aga di bumi Parahyangan, memberikan berbagai macam pelajaran kepada pengikutnya terutama ajaran siwaistis dengan berbagai aliran yang disebut sekte siwa yang terbagi menjadi berbagai macam sekte yaitu Siwa Shidanta, Siwa Pasupata, Siwa Bhairawa, Siwa Kala Mukha, Siwa Sambhu dan Siwa linggayat sekte-sekte tersebut menjadi simbol pemujaan utama kepada Dewa Siwa di pulau bali dan membuktikan bahwa payangan sebagai salah satu tempat suci pemujaan kahyangan dewata atau kedewatan pada saat itu.

              

Kori Agung Pura Dalem Agung Payangan
Salah satu kahyangan dalem tua atau pura dalem kuno di Payangan adalah Pura Dalem Agung Payangan terletak di Banjar Sema, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar dan mengenai asal-usul berdirinya pura dalem keramat dan tertua ini sebagai Kahyangan Ida Bhatari Dalem yang bergelar Bhatari Durga atau Dewi Uma, Dewi Parwati, Dewi Adisakti, Dewi Mahakali Bhairawi dan beliau adalah istri sakti Dewa Siwa Mahadewa (Bhatara Guru) dan mengapa dikatakan pura dalem lingsir karena Pura Dalem Agung Payangan pertama kali ada di Payangan dan juga sebagai satu-satunya Pura Dalem tertua di Bali dan memiliki keunikan tersendiri sehingga masyarakat pada umumnya dan penekun spiritual di bali sering menyebutnya Dalem tua.
Pura Dalem Agung Payangan ini sangat erat kaitannya dengan Pura Murwa dan pada zaman dahulu penyebutan Pura belum di kenal yang ada adalah Kahyangan tempat pemujaan para dewata. Seperti menurut beberapa penglingsir orang tua dahulu menyebutkan Pura Dalem Agung Payangan sering di sebut Kahyangan Dalem Purwa yang keberadaannya memiliki hubungan dengan Kahyangan Murwa Bumi di banjar pengaji dengan adanya lontar Markandeya Purana Tatwa yang tersimpan di Pura Agung Besakih menyebutkan bahwa setelah Rsi Markandeya membangun Kahyangan Murwa Bumi (Murwa Bhumi) Parahyangan dan Sang Maharsi Markandeya membangun Kahyangan Dalem Purwa (Purwa Bumi) Parahyangan dengan itu keberadaan kedua Pura tersebut sebagai dasar kekuatan spiritual di payangan khususnya di bagian bali tengah yang di perlambangkan sebagai simbol Bhuwana Agung yaitu kekuatan Tuhan sebagai Purusa/Sang Hyang Angkasa (Siwa) dan Pradana/Sang Hyang Pertiwi (Durga).

Pada saat Rsi Markandeya kembali ke Gunung Raung di Jawa timur untuk mencapai moksa, Kahyangan Dalem Purwa (Purwa Bumi) oleh para pengikut Rsi Markandeya yang sempat tinggal sementara di bumi parahyangan digunakan sebagai tempat pemujaan aliran sekte Bhairawa untuk memuliakan Dewa Siwa Bhairawa dan saktinya Durga Bhairawi sehingga keberadaan tegik pemuwunan agung saat ini di Pura Dalem Agung Payangan zaman dahulu digunakan sebagai salah satu sarana utama pemujaan sekte bhairawa khususnya di desa payangan dan pemujaan sekte bhairawa sudah berkembang pesat sejak pertengahan tahun 825 Masehi di jaman kerajaan bali aga dan ajaran bhairawa sangat populer di bali hingga saat ini. Adanya kerajaan pemerintahan bali aga dinasti Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa yang saat itu menjadi pusat kerajaan yang bernuansa Hindu khususnya Siwa-Budha pada abad ke 11 saat kedatangan seorang Brahmana Pandita Budha Mahayana dari Daha Kediri Jawa Timur.
Beliau adalah Ida Mpu Kuturan/Dang Hyang Rajakertha datang ke bali Isaka 923 atau tahun 1001 Masehi beliau adalah salah satu Brahmana Panca Pandita/Panca Tirta atau lima pendeta suci bersaudara dari daerah Kediri jawa timur dan beliau dimohonkan oleh Raja Kediri Prabu Airlangga agar datang ke bali membantu kedua orang tuanya raja bali aga karena saat itu dalam keadaan mengkhawatirkan sering terjadi kekacauan dimana-mana hampir seluruh masyarakat desa yang ada di bali berselisih faham dikarenakan keyakinan ajaran dan pemujaan dari sekte-sekte yang berkembang pada saat itu seperti sekte Brahma, Wisnu, Ganapati, Surya, Indra dan Budha Mahayana di tambah lagi adanya sekte faham Siwa yang telah ada terlebih dahulu berkembang seperti Sekte Siwa Shidanta, Pasupata, Bhairawa Tantra, Kalamukha, Sambhu dan Linggayat sehingga saat itu tercatat tiga belas sekte yang ada di bali, dengan pemahaman masyarakat bali yang kurang baik dan menimbulkan konflik berkepanjangan di dalam masyarakat bali oleh karena itu Ida Mpu Kuturan diminta datang ke bali sebagai penasihat sepiritual sekaligus  sebagai purohit pendeta utama kerajaan bali kuna Raja Sri Dharma Udayana Warmadewa dengan pengetahuan spiritual beliau Ida Mpu Kuturan merubah sistem sekte aliran kepercayaan di bali dan mempersatukan seluruh sekte-sekte yang ada termasuk salah satunya adalah Sekte Siwa Shidantha dan Bhairawa sebagai sekte yang paling besar di bali, agar dari sekte itu menjadi satu kesatuan yaitu Tri Murti pemujaan Tiga Dewa utama (Kahyangan tiga) sebagai kekuatan tuhan yang utama Dewa Brahma berstana di Pura Bale Agung, Dewa Wisnu berstana di Pura Puseh, Dewa Siwa (Bhatara Guru) dan Dewi Durga berstana di Pura Dalem Mrajapati dengan terbentuknya tri kahyangan di setiap desa di bali sekte Siwa Shidanta dan sekte Bhairawa Tantra melebur dan beralih fungsi menjadi Pura Dalem Kahyangan dan Setra Mrajapati yang memuja kesaktian khusus dari Dewa Siwa dan Dewi Durga.

Adanya perubahan sistem pada era raja bali kuna Sri Dharma Udayana pada tahun 1003 Masehi pura kahyangan di setiap desa di seluruh bali termasuk desa melinggih payangan yang saat itu dengan kahyangan dalem purwa diubah menjadi konsep Ida Mpu Kuturan pada era kerajaan bali kuna yaitu Pura Dalem Kahyangan Tiga Payangan dan Setra Ageng Payangan dimana pura dalem ini dahulu disungsung oleh seluruh masyarakat payangan khususnya desa melinggih dengan luas area setra kuburan terluas dan terbesar di payangan. Kemudian saat kerajaan bali Bedahulu jatuh ke tangan kerajaan Majapahit beberapa abad atau ratusan tahun kemudian datanglah keturunan raja bali majapahit generasi Ida I Dewa Agung Pemayun pada tahun 1755 Masehi dari Gelgel Klungkung menjadi penguasa daerah payangan dikarenakan saat itu payangan belum ada raja sebagai pemimpin yang mengurus seluruh desa-desa di payangan termasuk pura Kahyangan Tiga Dang Kahyangan Payangan karena masyarakat desa payangan saat itu sudah menyungsung pura dalem purwa sebagai pura dalem kahyangan tiga payangan di banjar sema maka dari pihak kerajaan payangan tidak perlu lagi membangun pura dalem kahyangan dan hanya membangun pura pemujaan kawitan leluhur pura dalem tengaling sebagai mengingat atau simbol keturunan raja dalem pemayun kelungkung di bali.
Desa melinggih payangan dan kerajaan puri payangan merupakan pengempon sekaligus penyungsung Ida Bhatari Dalem sehingga pura kahyangan dalem purwa yang kemudian hari berubah nama menjadi Pura Dalem Agung Payangan yang berarti Pura Dalem yang utama dan terbesar serta sebagai pusat dan induk seluruh pura dalem kahyangan tiga di setiap desa pekraman di kecamatan payangan.

Pura Dalem Agung Payangan ini terdapat berbagai peninggalan berupa arca pralingga dewata dengan berbagai bentuk seperti arca raksasa mata satu (toktosil), arca dewa menunggang harimau, arca singa, arca pendeta rsi, arca bedogol bhairawi dll. Ada beberapa arca-arca patung yang dahulu telah rusak digunakan pendeman dasar bangunan di masing-masing pelinggih Pura Dalem Agung Payangan ini.


Dewa Siwa/Bhatara Guru  &  Dewi Uma Parwati / Bhatari Durga

Keunikan : 
  • Pura Dalem Agung Payangan memiliki berbagai keunikan yaitu adanya Bale Pejagalan atau Bale timbangan yang terletak di Madya Mandala dan berfungsi secara niskala Bale Pejagalan ini untuk menimbang baik buruknya perbuatan roh manusia di Dunia (marcapada) atau dapat juga disebut sebagai Akhiratnya Dunia.   
  • Terdapatnya Gedong Pemijilan Agung yang artinya Pemijilan adalah (mijil) suatu permulaan awal kehidupan dan akhir dari kematian sehingga Pura Dalem Agung Payangan adalah pusat dari awal dan akhir kehidupan makhluk ciptaan Tuhan di dunia dan juga sebagai stana Kahyangan Bhatara Guru (Dewa Siwa Mahadewa) dan Bhatari Uma Parwati (Dewi Durga) sehingga Pura Dalem Agung Payangan memiliki pemujaan Purusa (Siwa) dan Pradana (Sakti).
  • Terdapatnya Pelinggih Banaspati secara mitologi Hindu Banaspati adalah Raja Jin, iblis, Setan, Dedemit, Roh halus, Penjaga Kuburan, Pohon Besar dan Hutan Angker fungsi beliau sebagai pengabih dan penjaga Kahyangan Ida Bhatari Lingsir Pura Dalem Agung Payangan.
  • Terdapatnya Pelinggih Ratu Siwa Bujangga mengingat pada zaman dahulu di Pura Dalem Agung Payangan ini distanakan Bhatara Siwa Bujangga Sakti maka setiap kali menggelar upacara tidak perlu lagi menggunakan Ida Pedanda (sulinggih) dalam memimpin upacara dan cukup hanya diselesaikan oleh Jan Banggul atau Jero Mangku sebagai pamucuk karya di Pura Dalem Agung Payangan dengan didahului mohon tirta atau kakuluh di pelinggih Ratu Siwa Bujangga. Akan tetapi seiring perkembangan zaman dan adanya pemerintahan kerajaan di payangan maka saat itulah diberlakukannya peraturan yang menggunakan Ida Pedanda (sulinggih) dalam memimpin upacara di Pura Dalem Agung Payangan, namun secara niskala tetap didahului atur piuning dan memohon tirta atau kakuluh di pelinggih Ratu Siwa Bujangga karena beliau adalah Dewa Siwa yang bergelar Pendeta di alam luhur atau pemuput karya niskala swah loka di Pura Dalem Agung Payangan dan secara sekala Ida Pedanda (sulinggih) hanya memimpin proses persembahyangan umat yang bersembahyang di Pura Dalem Agung Payangan.
Gendang Sakral Dag, Dug, Dag, Plung
  • Terdapatnya Gendang Sakral Dag, Dug, Dag, Plung gendang yang hanya dibunyikan pada saat Ida Bhatari lingsir Dalem Agung Payangan tedun ring payogan beliau dan konon gendang inilah sebagai pertanda dari bala maya niskala unen-unen maupun rencangan panjak drue Ida Bhatari yang berjumlah 108 ribu banyaknya.
  • Terdapatnya Pelinggih Sapta Petala 7 lapisan alam bawah termasuk alam neraka konon yang berstana adalah Sang Hyang Naga Basuki dan Sang Hyang Naga Antaboga.
  • Keunikan lainnya di Pura Dalem Agung Payangan Jero Mangku tidak menggunakan Genta atau Bajra dalam melaksanakan upacara keagamaan di Pura Dalem Agung Payangan dan hal ini menjadi ciri khas dari pura tua di bali.
  • Terdapatnya Pohon Rudraksha atau Genitri yang disucikan oleh umat Hindu yang tumbuh liar dengan sendirinya di Pura Dalem Agung Payangan dan biji buahnya dipercaya sebagai perwujudan Dewa Siwa Mahadewa di bumi.


Tegik Pemuwunan Agung  (Pura Dalem Agung Payangan)
Tegik pemuwunan agung berada tepat di depan pura mrajapati yang berdampingan langsung dengan Pura Dalem Agung Payangan dan setra kuburan terbesar di payangan ini, secara fungsinya tegik pemuwunan agung sebagai tempat melinggih dan berstananya Sang Hyang Durga Bhairawi dan Sang Hyang Kala Bhairawa yang menghidupkan jiwa suci tapakan sesuhunan barong dan rangde dalam ritual tantra prosesi ngerehin di setra dan pada masa Kerajaan diperuntukan sebagai kremasi utama perabuan raja ratu payangan. Bentuk tegik pemuwunan agung ini sebagai yang tertinggi dan terbesar di bali yang mencapai tinggi tegik lebih dari tiga meter dan menurut keyakinan orang tua zaman dahulu tegik pemuwunan agung Pura Dalem Agung Payangan ini menggunakan caru agung berupa lima kepala manusia sebagai pondasi dasarnya sehingga tegik pemuwunan tersebut menjadi sangat sidhi beraura magis, dalam ritual konsep pemujaan Tantra Bhairawa dan lontar Gong Besi disanalah diyakini berstana Sang Hyang Kala Bhairawa yang senang memberikan anugerah kesaktian dan kewisesan.


Utama  Mandala / Jeroan Pura  Dalem Agung  Payangan
Pura Dalem Agung Payangan dibagi menjadi tri mandala yaitu jaba sisi, jaba tengah dan utamaning mandala tetapi Pura Dalem Agung Payangan ini memiliki keunikan dan mungkin hanya ada satu-satunya di Bali Pura Dalem Kahyangan yang konsep strukturnya semakin ke dalam atau menurun di utamaning mandala yang arti sebenarnya nama dari Dalem adalah awal kehidupan (lahir) dan akhir (mati) atau sulit di dekati sehingga ada istilah tuhan tidak akan mudah didekati terkecuali manusia tersebut sudah dalam pencerahan kesucian spiritual serta menjauhi sifat duniawi menuju penyatuan diri kepada tuhan atau dapat kembali kepada Sang Maha Pencipta melalui kematian. begitu juga dengan ajaran tantra Durga kiwa dan Siwa penengen dan inilah yang di sebut Rwa Bhineda siklus kehidupan dan baik buruknya alam semesta semua ada di Pura Dalem Agung Payangan ini dan siapapun boleh menghaturkan sembah puja bakti di pura dalem ini tanpa adanya perbedaan status, golongan maupun jabatan karena Pura ini adalah linggih utama dari Dewa Siwa Mahadewa dan Dewi Uma Parwati yang memberikan anugrah keselamatan, panjang umur maupun taksu duniawi kepada setiap umat manusia.


Relief Kuno Utama Mandala Pura Dalem Agung Payangan

Pada zaman dahulu di Kerajaan Payangan Tjokorda Agung Raja Payangan dan Masyarakat berkeinginan untuk merubah struktur palemahan tanah di Pura Dalem Agung Payangan yaitu jaba sisi, jaba tengah dan utama mandala yang menurun semakin rendah agar menjadi tinggi seperti halnya konsep palemahan struktur tanah pada pura umumnya yang ada di bali akan tetapi keanehan terjadi di saat proses pengurukan tanah di jaba tengah yang secara tiba-tiba tanpa ada hembusan angin cabang pohon beringin berusia ratusan tahun tumbang seketika menimpa gedong pekoleman tapakan barong ket Ida Bhatara Ratu Gede yang dahulu melinggih di jabe tengah Pura Dalem Agung Payangan karena pekolemannya rusak serta hancur oleh cabang pohon beringin pura mrajapati dengan itu dari pihak puri payangan dan masyarakat membawa tapakan barong tersebut ke Pura Puseh Melinggih Payangan hingga sampai saat ini tapakan barong Ida Bhatara Ratu Gede, tapel rangda Ida Ratu Mas dan tapel rangda bermata satu (Sang Hyang Toksil) yang berasal dari Pura Dalem Agung Payangan distanakan di Pura Puseh Melinggih Payangan karena menjadi satu kesatuan Pura Kahyangan Tiga Jagat Payangan dengan adanya kejadian itu ada rawos luhur atau pawisik yang diterima jero mangku Pura Dalem Agung Payangan saat itu bahwa "Sang Hyang Ibu Bhatari sane melinggih ring Kahyangan Dalem Agung ten kelugra" tidak berkenan kalau Parahyangannya di rusak atau pun dirubah dan Ida Bhatari berkeinginan biarkan seperti apa adanya sama halnya saat kahyangan ini ada di bumi payangan karena beliau adalah perwujudan Bhatari Durga "Sang Hyang Ibu jagat" sebagai ibu pertiwi dan ibu semua mahkluk yang hidup dan mati di bumi dan apabila kegiatan masih dilanjutkan akan ada bencana besar terjadi secara sekala maupun niskala di jagat payangan khususnya desa melinggih. Karena adanya rawos pawisik diluhur itu maka masyarakat dan puri payangan langsung menghentikan kegiatannya karena tidak berani mengambil resiko takut akan kemarahan kroda ida bhatari dalem yang melinggih di Pura Dalem Agung Payangan beliau sejatinya adalah dewi durga penguasa urip atmapati hidup matinya manusia di dunia sehingga semenjak saat itu struktur palemahan struktur tanah menurun di Pura Dalem Agung Payangan tetap seperti aslinya sampai sekarang.

Ajaran Sadcakra yaitu ajaran tentang enam cakra kekuatan dalam diri manusia dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia yang bersumber dari sekte Bhairawa (Siwa-Durga). Menurut ajaran sekte ini dan rontal-rontal yang termuat dalam tantrayana seperti lontar Gong Besi yang menyebutkan lingkaran Muladara dalam bagian perut pusar manusia yang berada di bawah adalah berbentuk Lingga Siwa dan yang mengelilinginya dengan tiga setengah adalah Dewi Durga itu sendiri dan dengan latihan-latihan khusus Cakra Durga ini dapat dibangunkan dari sikap tidurnya yang melingkar dan naik sampai ke lingkaran-lingkaran halus badan yang paling tinggi. 
Istilah ajaran Tantrayana berasal dari akar kata “Tan”  yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan dari pada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme identik dengan Dewa Siwa dan banyak terdapat di India Selatan dan india tengah dibandingkan dengan India Utara. Kitab-kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali dan di Indonesia dari Tantrisme munculah suatu faham “Bhairawa” atau “Bhairawi” yang artinya hebat/Dahsyat.
Dalam upacara memuja Bhairawa sudah dilakukan selama ribuan tahun oleh para penganut aliran Tantrayana dan aliran ini biasanya diterapkan oleh para Yogi/Maharsi yaitu dengan cara agar dapat bersatu dengan Dewa Siwa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah mati sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut dengan ritual Pancamakarapuja di kuburan maupun di Tempat pembakaran mayat dengan cara seseorang melakukan sembah bhakti kepada dewa siwa.  
Mitologi India menyebutkan bahwa Gunung Khailasa Himalaya adalah tempat Kahyangan dewa siwa tetapi beliau lebih senang bepergian ke Bumi terutama di tempat-tempat angker seperti setra kuburan maupun tempat pembakaran mayat karena beliau selalu melakukan ritual yang misterius sehingga beliau juga bergelar sebagai rudra murti (pelebur tertinggi) karena mengetahui itu manusia melakukan puja bhakti bhairawa Tantra di setra kuburan maupun pembakaran mayat pemuwunan agar mendapatkan anugerah kesaktian maupun sidhi dari dewa siwa.


Dewa Siwa  Durga Sakti Dewi Bhairawi
Pada jaman dahulu di nusantara penjagaan keamanan dan pengendalian pemerintahan di wilayah kekuasaan suatu kerajaan berdasarkan pada kesaktian dan kekuasaan raja. Seperti pada tahun 1285 Masehi raja jawa Singasari yaitu Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Mongol Khu Bhi Lai Khan  yang menganut Bhairawa Heruka. aliran-aliran Sekte Bhairawa cenderung bersifat politik, untuk mendapatkan kesaktian dan kharisma besar sangat diperlukan dalam hal ini adalah pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan kerajaan, seperti halnya pemimpin dari kalangan militer di masa sekarang, Karena itu para raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran sekte ini.
Di ceritakan bahwa patih Majapahit Adityawarman turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali (Bedahulu) pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Diceritakan bahwa ia dan saudara-saudaranya membantu Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit untuk menyerbu Kerajaan Bedahulu Pejeng, Gianyar Bali. Kerajaan Bedahulu adalah kerajaan Bali kuno yang berdiri sejak pertengahan abad ke 8 Masehi hingga abad ke 14 Masehi yang diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Sri Warmadewa. Ketika menyerang Bali, raja Bali Bedahulu Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang menguasai saat itu adalah seorang Bhairawa penganut ajaran Durga Bhairawi.


Sakti Siwa Durga Kala Cakra
Untuk mengalahkan Raja Bali Bedahulu yang terkenal sakti itu Majapahit mengatur siasat agar Raja dan Mahapatih Bali Kebo Iwa (Kebo Taruna) harus dipisahkan kalau tidak kerajaan bali akan sulit atau bahkan tak terkalahkan dikarenakan mahapatih bali dwipa yaitu Kebo Iwa adalah mahapatih yang sangat kebal dari senjata tajam apapun dengan hal itu Mahapatih Gajah Mada mengatur siasat agar mahapatih Kebo iwa di undang ke Jawa (Majapahit) dan juga memisahkan kedua kekuatan utama kerajaan bali yaitu antara Raja Bedahulu dan Patihnya Kebo iwa, sehingga dengan itu Majapahit juga mengutus patih Adityawarman yang menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kesaktian raja Bali Bedahulu yang menganut kesaktian Durga Bhairawi.
Pertempuran Dahsyat sesama penganut Bhairawa yang terjadi berakhir dengan kekalahan Raja Bedahulu dengan kekalahan itu maka Raja Bedahulu Sri Astasura Ratna Bumi Banten disebutkan pergi menyelamatkan diri dari pengejaran tentara Majapahit ke arah bukit payangan dan bukit kintamani bangli yang memang daerah pada saat itu sebagai pusat mayoritas masyarakat bali aga, sehingga dengan peristiwa itu terjadi kekosongan pemerintahan maka kerajaan bali dwipa bedahulu dengan mudah berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit dan Mahapatih Bedahulu Kebo iwa gugur di jawa dikarenakan siasat tipu daya Mahapatih Gajah Mada.


Ida Bhatari Sakti Pura Dalem Agung Payangan
Misteri dan Keangkeran Pura Dalem Agung Payangan di Banjar sema sebagai tempat melinggihnya dan stana Ida Bhatari Durga Dewi tidak dapat dipungkiri kepingitan maupun Keangkeran dari Pura Dalem tertua di payangan ini dan cerita masyarakat desa setempat terutama orang tua dahulu maupun cerita masyarakat desa lain yang pernah melihat maupun merasakan keangkeran dari penjaga alam niskala Pura Dalem Agung Payangan menceritakan bahwa bentuk fisik dan tanda penjaga unen-unen maupun rencangan duwe ida Bhatari Dalem lingsir apabila tedun atau hadir pada hari dan waktu tertentu sehingga apabila ada manusia pada saat waktu dan jam yang memang tidak dibenarkan melakukan aktifitas ida duwe pasti menampakan wujudnya dan “ ida Duwe rencangan sangatlah banyak dan menyeramkan serta berwujud yang aneh-aneh” yaitu : 

Berwujud tengkorak berkunjung, Berwujud Kala Detya mata satu (toksil), Berwujud Kala Maya Ireng, Berwujud Kala Sungsang, Berwujud Oncer Serawa, Berwujud Niang ning Denawa, Berwujud kepiting putih, Berwujud tokek raksasa, Berwujud tangan-tangan dan kaki manusia, Berwujud ular lipi pendek seperti kendang, Berwujud ular lipi berkepala dua, Berwujud ular lipi poleng (weling), Berwujud ali-ali ular lipi emas, Berwujud ayam putih berkaki tiga, Berwujud burung besar garuda, Berwujud bola api Banaspati yang dapat menghanguskan apa saja yang dilaluinya dan masih banyak unen-unen maupun rencangan Ida Bhatari Dalem Lingsir yang berjumlah ribuan banyaknya dan pasti mendengarnya saja membuat bulu kuduk merinding apa lagi merasakan ataupun melihat penampakan rencangan yang berupa aneh-aneh tersebut, dan dengan adanya berbagai keunikan yang ada di Pura Dalem Agung Payangan ini baik itu Sekala maupun Niskala membuktikan bahwa kekuasaan Tuhan tidak sebatas hanya alam semesta maupun Mahkluk Ciptaannya yang nyata tetapi di luar itu Tuhan menciptakan mahkluk di luar dimensi alam lain yaitu alam Niskala.

Pura Kahyangan Tiga Dang Kahyangan Payangan yang berkaitan dengan perjalanan suci Rsi Markandeya di Bumi Payangan yaitu ;
  • Pura Muwa Bumi di Br.Pengaji
  • Pura Dalem Agung Payangan di Br.Sema
  • Pura AirJeruk / Er Jeruk Payangan di Br.Semaon
  • Pura Agung Payangan di Br.Payangan Desa
  • Pura Puseh Melinggih Payangan di Br.Melinggih
  • Pura Alas Angker Payangan di Desa Kerta
Kahyangan ini sebagai sad Kahyangan enam Parahyangan Dewata di Payangan dengan keberadaan pelinggih khusus Ida Bhatara Ratu Siwa Bujangga pendeta alam niskala di setiap pura kuna yang ada di payangan sebagai simbolisasi perpaduan pengaruh zaman dharma yatra/perjalanan suci Ida Rsi Markandeya dan Ida MPU Kuturan di bali.

Pura Airjeruk/Erjeruk Payangan yang keberadaannya berkaitan dengan adanya kisah buah jeruk linglang yang hidup hanya di dunia Bhatara yang dapat menghidupkan (urip) mahkluk apapun yang telah Mati dan air dari buah jeruk sakti inilah diminum oleh Rsi Markandeya beserta pengikutnya dalam memulihkan kondisi tubuh setelah merabas Hutan Alas Angker Payangan yang banyak menelan korban jiwa dari pengikutnya Rsi Markandeya sehingga disebut Alas Angker/Hutan Angker dan juga kasiat dari air Jeruk linglang ini diyakini sangat luar biasa hebatnya dalam menyembuhkan berbagai penyakit,namun keberadaan pohon maupun jeruk linglang ini jauh berada di Alam niskala terkadang di hari tertentu terlihat namun juga terkadang tidak terlihat (Maya-Maya) dan hanya di Pura ini saja ada karena buah jeruk linglang ini kesayangan ida Bhatara yang melinggih di pura tersebut sehingga Rsi Markandeya memberi nama Parahyangan Air Jeruk.

Pura Agung Payangan/Pura Bale Agung Payangan Desa zaman dahulu kala terpanjang di Payangan dan juga di bali yang pada jaman dahulu Bale agung panjangnya sangat panjang dan bale agung inilah sebagai tempat pesamuan Agung Rsi Markandeya beserta pengikutnya dalam melakukan kegiatan upacara keagamaan maupun pembelajaran ajaran Sekte-sekte aliran kepercayaan di bali dan Bale Agung Payangan saat itu sebagai yang terpanjang di bali tempat utama Pesamuan Agung Rsi Markandeya dan juga sebagai tempat tinggal sementara dari pengikut Rsi Markandeya yang berdiam di bumi Parahyangan/Payangan yang setelah itu banyak dari mereka berpindah tempat ke daerah lain di seluruh Pulau Bali.
Bale Agung yang berada di Madya Mandala Pura Agung Payangan adalah yang panjangnya mulai dari utara payangan desa sampai ke selatan Pura Murwa Bumi desa pengaji payangan yang diperkirakan mencapai 1,5 km dan terbukti jejak peninggalan dari sendi kaki dasar pondasi bangunan Bale Agung menurut orang tua dahulu pada tahun 1970'an sendi dari Bale Agung saat itu masih terlihat jelas tetapi saat ini sudah tidak terlihat lagi dikarenakan sebagian tertutup oleh lahan persawahan maupun tempat pekarangan masyarakat di wilayah desa Karang Suwung Payangan yang artinya pekarangan yang sepi dikarenakan di bongkarnya oleh masyarakat payangan dan kedewatan kayu Bale Agung yang sebagian besar dari kayu tersebut di bawa ke Pura Agung Gunung Raung Taro.

Pura Puseh Melinggih Payangan memiliki peninggalan benda-benda arkeologi berupa arca dewa-dewi, lingga yoni berbentuk semu,arca Ganesa,arca Bedogol dll. yang telah diteliti oleh para arkeologi dinas kepurbakalaan bahwa Pura Puseh ini ada di zaman sekte kepercayaan di bali pada abad ke-8 cenderung mendekati zaman peralihan Megalitic animisme ke zaman era Hindu Siwa Budha di Bali. 


Pesiraman Bhatari lingsir Dalem Agung Payangan (Goa Taman Magenda)

Dari tinjauan sejarah tidak banyak terungkap mengenai Kahyangan/Pura kuno peninggalan Rsi Markandeya di Bali baik itu di wilayah Kecamatan Payangan maupun di Desa Taro Tegalalang,dikarenakan di jaman dahulu adanya politik kerajaan penguasa daerah pada saat itu.

Konon setelah berhasil mengembangkan ajaran Siwa di Bali,Rsi Markandeya kembali ke Gunung Raung di jawa timur untuk melakukan tapabrata  hingga mencapai Moksa (manunggaling lan gusti) ditempat tersebut.

Dari keberadaan Parahyangan/Kahyangan di Bali dapat di sadari bahwa begitu besar jasa Rsi, Mpu dan Dhang Guru dalam menyebarkan ajaran Hindu di Bali dan tanpa jasa beliau-beliau di Bali kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya hasil karya Agung berupa tradisi ritual sakral yang berbalut seni budaya hingga sampai-sampai pulau kecil nan cantik ini di beri nama The Lord Island (Pulau Dewata) sebutan di mata Dunia internasional kepada pulau Bali oleh karena itu kita sebagai Orang Bali sepatutnya Bangga dan melestarikan Adat Agama maupun tradisi Budaya di Bali karena Bali adalah satu-satunya Warisan Nusantara maupun Dunia. 

                                                    
Desa Melinggih Kecamatan Payangan

Desa Melinggih, Payangan terbagi menjadi tujuh Banjar yang terdiri dari :

1.Br.Pengaji

2.Br.Sema

3.Br.Badung

4.Br.Payangan Desa

5.Br.Melinggih

6.Br.Mancingan


7.Br.Geriya

Piodalan/Pujawali Pura Dalem Agung Payangan : Buda Manis Julungwangi

Piodalan Ageng/Karya Gede : Buda Manis Julungwangi, Sasih Kesanga